Minggu, 12 Agustus 2012

Asal Mula Ujung Batu


Pada abad XIV Masehi di salah satu daerah di provinsi Riau yakni Rokan terdapat 2 kerajaan besar, yakni Kerajaan Kunto Darussalam yang berpusat di Kota Lama dan Kerajaan Rokan yang berpusat di Koto Sembahyang Tinggi. Kerajaan ini berkuasa pada wilayah yang dilalui sebuah sungai yang mengalir di sepanjang kerajaan tersebut,yaitu Sungai Rokan.
 
Sungai Rokan adalah salah satu sungai besar di Riau yang bermuara ke Selat Melaka. Sungai ini merupakan urat nadi perhubungan rakyat antara daerah pantai dan pedalaman. Wilayah Sungai Rokan atau dikenal dengan Rokan Kiri terdapat beberapa kampung,salah satunya adalah Ujungbatu.
 
Adat istiadat yang berlaku di Ujungbatu berasal dari Andiko 44 yang berkedudukan di Muara Takus, Pucuk Andiko 44 bergelar Datuk Ajo Dibalai.Andiko 44 tidak mengenal Bundo kandung,yang ada adalah Induk Suku, kebawahnya Tuo Si induk sampai dengan pada Induk Umah Suku. 
 
Andiko 44 ini mempunyai wilayah sangat luas yaitu dikenal dalam wilayah 5 Kabung Aie yang meliputi :
1. Kapur Sembilang terdiri dari 4 Andiko
2. Kampar Kiri terdiri dari 6 Andiko
3. Kampar Kanan terdiri dari 21 Andiko
4. Tapung Kiri terdiri dari 5 Andiko
5. Tapung Kanan terdiri dari 3 Andiko
6. Pintu Raja terdiri dari 1 Andiko
7. Rokan terdiri dari 1 Andiko
8. Tanjung Singingi terdiri dari 2 Andiko
9. Delapan Koto Sitingkai terdiri dari 1 Andiko

Setiap Andiko dipimpin oleh seorang Datuk yang merupakan Pimpinan Kerapatan Adat,dan untuk daerah Ujung batu di Pimpin oleh Datuk Bendahara. Ujungbatu terdapat 5 Suku yakni Melayu Godang, Caniago, Meniliang Godang, Melayu Tongah dan Meniliang Tongah. Setiap Suku dipimpin oleh 2 Orang Datuk adat yang disebut sebagai Mamak Soko dan Mamak Pisoko. Dalam kehidupan sehari-hari adat istiadat yang dipakai adalah Adat bersandi Syara', Syara' bersandikan Kitabullah; artinya kebiasaan adat diuji dengan kitab,mana yang bertentangan dengan kitab suci umat islam tidak dipakai lagi.
 
Di Ujungbatu apabila ada sengketa atau permasalahan harus di selesaikan secara adat bukan secara hukum dulu, yang bermasalah akan di panggil oleh Mamak Otak Botih dengan menghadirkan Tuo Si Induk, apabila tidak selesai maka akan di lanjutkan ke Mamak Pisoko dan menghadirkan Sumondo Tuo,Dubalang dan Induk Suku, tetapi jika tidak dapat diselesaikan maka akan dihadapkan pada Mamak Soko, biasanya kalau sampai pada Mamak Soko perdamaian akan terlaksana. Sehingga apabila kata seorang Mamak Soko seorang pencuri tidak boleh dipenjarakan maka dia akan bebas dan polisi tidak dapat berbuat banyak. tetapi pelaku akan di awasi oleh kerapatan adat. Semenjak perkembangan zaman Khusus untuk kasus Narkoba,Pembunuhan,Kriminal berat akan diselesaikan lewat jalur Hukum tetapi tetap memperhatikan petuah Mamak Soko.
 
Ujungbatu memiliki potensi bisnis seperti karet, sawit, Pasir batu, dan walet juga daerah yang sangat strategis sehingga sangat rawan untuk di caplok oleh daerah lain. Selain itu , masyarakat masih memiliki karakter memegang adat yang kuat dan mengikuti apa yang dibilang oleh tokoh adat dan tokoh masyarakat, sehingga apabila tidak ada pendekatan dengan dan restu dari tokoh adat maka membuka bisnis tidak akan pernah maju dan berkembang. Sehingga para pengusaha yang memiliki usaha di Ujungbatu mencari Mamak angkat dan beli suku. Semakin tinggi posisi Mamak angkatnya maka mereka akan disegani oleh masyarakat dengan demikian perkembangan usaha mereka jadi lebih meningkat tinggi.
 
Selain itu oleh masyarakat Ujungbatu terdapat suku yang keberadaan tidak kasat mata atau tidak nampak oleh manusia biasa yakni Suku Bunian. Hanya orang – orang tertentu yang bisa berkomunikasi dengan Suku Bunian, bentuk dan rupanya katanya sama dengan manusia biasa yang membedakannya hanya Suku Bunian tidak memiliki lekukan (rata) antara bibir atas dengan hidung. Kehidupan Suku Bunian sama seperti manusia beraktifitas dan berkembang. Terlepas kita percaya atau tidak yang penting adalah dimana kaki dipijak disitu langit di junjung,
 
sumber: http://www.ujungbatu.org/2012/06/asal-mula-ujung-batu.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar